Jumat, 12 Agustus 2016

Puncak Para Dewa

spilldong.blogspot.com

Setelah petualangan di Gunung Rinjani yang diyakini tempat bersemayamnya Dewi Anjani, beberapa bulan kemudian aku menginjakkan kaki di atas puncak Mahameru tempat bersemayamnya Para Dewa. Cuaca yang cerah diiringi dengan suara gemuruh letusan kawah Jonggring Saloko membuatku semakin penasaran dengan Puncak Mahameru. Pukul 5 pagi aku masih berada di trek pasir menuju puncak. Butuh fisik dan mental yang kuat untuk bisa melewati trek berpasir lembut dan berbatu ini. Pasirnya sangat labil, bahkan kalau dibandingkan dengan trek pasirnya Gunung Merapi masih mendingan trek pasirnya Gunung Merapi. Batu-batuan yang terinjak pun mudah menggelinding ke bawah. Ketika melihat batu yang menggelinding ke bawah, secepatnya harus berteriak memberi tahu bahwa ada batu yang jatuh agar orang-orang yang berada di bawah bersiaga. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kecelakaan, karena bisa fatal akibatnya. Dengan tingkat kemiringan yang aku rasa mencapai 60° ini menambah sulit perjuangan untuk mencapi puncak Mahameru. Meskipun dari batas vegetasi terlihat dekat, namun nyatanya aku membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk bisa menginjakkan dua pasang kaki ini di puncak Para Dewa.

Perjuangan beratku tidak sia-sia, Puncak Mahameru tempat Para Dewa akhirnya bisa aku gapai juga. Matahari mulai menampakkan wujudnya tapi udara di puncak masih terasa sangat dingin ditambah dengan kencangnya angin pagi itu. Kondisi itu membuatku menggigil. Beberapa menit kemudian suara gemuruh pun terdengar dan BOMMMM!!!! Kawah Jonggring Saloko menyemburkan material ke atas dengan asap yang membumbung tinggi. Letusan ini terjadi setiap 15-20 menit sekali, jadi dalam satu jam bisa terjadi 3-4 kali letusan karena Gunung Semeru memiliki tipe erupsi Strombolian. Para pendaki sangat dilarang untuk mendekat ke kawah karena sangat berbahaya jika terkena muntahan material Jonggring Saloko. Sebenarnya batas pendakian Gunung Semeru hanya sampai Pos Kalimati tapi tidak dipungkiri masih banyak pendaki yang nekat sampai puncak, termasuk aku hehehe.

Menurut cerita, Pulau Jawa dahulunya terombang-ambing di lautan. Hal itu membuat Para Dewa memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru dari India ke Jawa. Proses pemindahan itu dilakukan langsung oleh Para Dewa dengan mengubah wujud mereka menjadi Kura-kura untuk mengangkut Gunung Meru dan wujud Ular untuk melilitnya. Sampai saat ini cerita yang melegenda itu masih diyakini oleh masyarakat Jawa. Setiap gunung mempunyai cerita, legenda, dan mitosnya masing-masing. Kelestarian kisah-kisah seperti itu harus tetap terjaga meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara Menuju Candi Cetho Menggunakan Transportasi Umum

       Salah satu destinasi wisata yang wajib kunjungi jika berkunjung ke Solo yaitu Candi Cetho. Candi bercorak Hindu ini terletak di Barat...