Pernah
mendengar nama “Blue fire”? Yaa, api biru yang langka dan hanya terdapat 2 di
dunia, salah satunya berada di negara kita tercinta yaitu Indonesia tepatnya di
Gunung Ijen. Alasan tersebut yang membuatku tertarik untuk melihat dengan mata
kepala sendiri. Tanpa pikir panjang aku mengajak teman kuliahku bernama Yoga.
Kami pun sepakat untuk ke Gunung Ijen meskipun ada jadwal kuliah. Setelah semua
informasi aku dapatkan, langsung aku susun itinerary dan ternyata hanya
membutuhkan waktu 5 hari dengan rencana bonus menikmati kota Banyuwangi. Satu
minggu kemudian kami skip kuilah beberapa hari untuk berpetualang.
Kami
berangkat dari Stasiun Lempunyangan menuju Stasiun Banyuwangi dengan durasi
kurang lebih 13 jam. Bayangin aja tuh naik kereta ekonomi dengan kursi yang
sangat tegap selama 13 jam, mantab kan? Hahaha. Kami berangkat pagi hari dan
sampai Banyuwangi malam hari. Setelah sampai, kami pun keluar stasiun dan
langsung memesan ojek untuk diantarkan ke desa terakhir sebelum menuju pos Pal
Tuding. Sesampainya di Desa Licin (kalau nggak salah, soalnya lupa namanya)
kami turun dan menunggu mobil pick up yang biasa mengangkut sayuran melintasi
pos Pal Tuding. Nggak butuh waktu lama kami mencegat sebuah mobil pick up yang
melintas meminta ijin menumpang sampai pos Pal Tuding. Setelah diijinkan kami
bergegas mengambil carrier (tas gunung) yang kami letakkan di pinggir jalan
lalu naik di bak belakang mobil. Saya lihat jam tangan menunjukkan pukul 23.15.
Jalanan sangat gelap tanpa penerangan dengan hanya ada lampu mobil yang kami
tumpangi, kanan-kiri terlihat pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi atau
bisa dikatakan hutan. Sungguh sepi dan sunyi tidak ada rumah warga, namun ada
beberapa warung yang tutup mungkin karena sudah terlalu malam juga.
Kurang
lebih 1,5 jam kami lewati hutan akhirnya sampai juga di pos Pal Tuding, kami
pun dipersilakan turun. Kami berterima kasih kepada pak sopir dan langsung
menuju warung untuk membeli kopi sebagai penghangat badan karena sudah sangat
kedinginan selama perjalanan. Kami mengobrol santai dengan penjual di warung dan
menanyakan di mana tempat pembelian tiket pendakian, maklum baru pertama kali
mengunjungi Gunung Ijen hehe. Tak lama kemudian kami menuju sebuah bangunan
kecil di samping parkiran yang tak lain adalah loket untuk pembelian tiket.
Harga
tiket untuk wisataman domestik 5.000 per malam, aku membeli 2 untuk diriku dan Yoga. Setelah tiket
terbeli kami mendirikan tenda di camping ground samping parkiran. Fyi, tidak
boleh camping di atas gunung karena gas belerang yang berbahaya maka disediakan
tempat camping dekat parkiran (info dari penjaga loket). Pukul 00.00 WIB atau
jam 12 malam banyak wisatawan yang mulai mendaki untuk melihat blue fire.
Kenapa jam 12 malam mulai mendaki? Karena blue fire atau api biru biasa keluar
menjelang pagi hari dan akan habis ketika sinar matahari sudah mulai nampak.,
biasanya sekitar pukul 3 samapai 4 pagi adalah waktu yang bagus untuk melihat
si api biru, kata bapak penjaga loket.
Selesai
kami mendirikan tenda dan istirahat sebentar, kami langsung tancap gas mendaki
Gunung Ijen. Jalurnya berupa tanah yang rata dan cukup menanjak, butuh waktu
sekitar 2 jam untuk sampai puncak namun tergantung kondisi fisik masing-masing.
Kalau mau menghemat tenaga kalian bisa naik ojek taksi, yaitu gerobak yang
biasanya untuk mengangkut belerang oleh penambang namun dijadikan angkutan
manusia. Harganya cukup mahal untuk ukuran kantong kami yang seorang mahasiswa.
Biasanya satu penumpang ditarik 2-3 orang penambang namun kalau dari atas ke
bawah cukup 2 orang saja.
Bau
belerang mulai tercium menandakan kami sudah hampir sampai puncak Gunung Ijen,
disarankan untuk memakai masker khusus agar tidak tersengat belerang yang bisa
mengganggu kesehatan. Kalian bisa sewa masker tersebut dari orang-orang yang
emang menyediakan penyewaan masker, di bawah dekat loket atau pun di atas
sebelum puncak orang-orang tersebut biasanya berada. Kami memutuskan dengan
tidak menyewa masker dan hanya menggunakan buff semacam masker kain yang
sebenarnya tidak boleh digunakan namun kami berinisiatif membasahinya agar
mampu menahan sengatan bau belerang (jangan ditiru!). Ketika sampai puncak,
perjuangan kami belum tuntas karena masih harus menuju ke bawah arah kawah
dengan medan yang berbatu dan sangat terjal, serta diselimuti dinginnya udara
malam dan arah gas belerang yang kadang-kadang mengarah ke jalur menuju kawah.
Pelan
namun pasti kamu mulai menuruni jalur berbatu yang curam. Gas belerang tentu
saja menjadi penghambat terberat kami, namun kami tetap hati-hati dan fokus
melihat jalan menggunakan senter yang kami bawa masing-masing. Setelah setengah
perjalanan kami pun bisa melihat blue fire dari jarak yang lumayan jauh, itu
membuat kami tambah semangat untuk sampai ke kawah. Perjuangan berat kami tidak
sia-sia, api biru alami yang sangat indah bisa kami lihat dengan mata kepala
sendiri dan itu adalah tujuan utamaku. Ada beberapa titik yang mncul api biru,
meskipun tidak terlihat yang besar namun cukup bagiku melegakan hati.
Lalu
terdampar ke Pulau Bali kapan, Iz? Sabarrr, sebenarnya cerita masih panjang
tapi nanti aku skip biar tidak terlalu panjang hehehe.
Matahari
sudah mulai menampakkan wujudnya namun kami masih stay di kawah karena ingin
berfoto-foto dengan latar pemandangan kawah dan penambang belerang. Sebenernya
di balik indahnya kawah Gunung Ijen ada cerita yang cukup membuat hati terketuk
(versi saya). Cerita itu dari seorang penambang belerang yang umurnya kisaran
40an tahun ke atas. Mereka menambang secara bergantian karena pipa belerang
tidak banyak, biasanya mereka harus antre dahulu dan hanya bisa menambang
sebanyak 2-3 kali dalam satu hari dengan beban belerang rata-rata 25kg. Mereka
memikul belerang tersebut dari kawah sampai puncak dengan medan bebatun yang
terjal, belum lagi kalau habis hujan biasanya licin. Sampai puncak mereka
menggunakan gerobak untuk membawa turun ke pos pengumpulan belerang. Waktu itu
salah seorang penambang bercerita kalau 1kg belerang dihargai 925 sampai 1.200
rupiah.
Okee
lanjut ke cerita perjalanan kami, setelah puas berfoto dan gas belerang sudah
mulai tebal, kami putuskan naik ke puncak lalu trurun kembali ke camping ground
untuk beristirahat dan makan siang. Kami berencana bermalam lagi di caming
ground tersebut, namun kami merasa sangat bosan dan memutuskan untuk mendaki
sekali lagi hahaha gila memang baru turun pagi, malamnya mendaki lagi. Pendakian
ke dua kami pun tercapai dalam sekali kunjungan ke Gunung Ijen, pendakian ke
dua ini yaa ceritanya hampir sama dengan pendakian pertama karena jalur dan
tujuannya juga sama jadi tidak perlu diceritakan lagi yaa hehehe.
Setelah
turun dari pendakian ke dua, kami membongkar tenda dan lanjut untuk turun ke
kota Banyuwangi. Lalu kami bertanya ke warung kopi yang di hari pertama kita
datangin untuk menanyakan informasi jam operasional truk angkutan belerang
turun ke kota. Jawaban penjual kopi itu membuat kita kaget campur lemas
karenadi luar rencana ternyata truk yang biasa mengangkut belerang dari Pal
Tuding turun ke kota hari itu libur. Bommmm!!! Aku dan Yoga pun hanya bisa
menertawakan keadaan kami sekarang ini yang entah bagaimana cara kami turun ke
kota. Fyi, hari Sabtu dan Minggu tidak ada truk yang beroperasi dan kita
rencana turun ke kota hari Sabtu. Kami pun berdiskusi sebentar untuk menyewa
ojek namun ternyata juga tidak ada ojek sama sekali, kami semakin kebingungan.
Akhirnya kami berinisiatif pendekatan dengan tukang bangunan yang sedang
mengerjakan sebuah proyek di dekat parkiran, intinya kami meminta tolong untuk
diantar turun ke kota hahaha kasihan sekali nasib kami.
Beruntungnya
kami, ada 2 orang yang bersedia mengantar kami ke kota tanpa meminta bayaran,
namun tetap saja kami memberi sedikit rejeki walaupun tidak seberapa karena
sudah menolong kami. Sampai di kota Banyuwangi kami seperti tidak punya tujuan
karena rencana awal kami hanya jalan-jalan di kota. Merasa kurang greget untuk
menjelajahi kota Banyunwangi, aku mengajak Yoga untuk menyebrang ke Pulau Bali
namun dia menolak karena kondisi keuangan kami yang sudah sekarat. Dengan
sedikit iming-iming aku paksa Yoga menuruti ajakanku, akhirnya dia terhasut
juga hahaha. Kita memesan ojek online untuk mengantar ke Pelabuhan Ketapang.
Sampai di depan pelabuhan kita langsung masuk menuju loket untuk membeli tiket
penyebrangan, harganya 6.500 karena kita tidak membawa kendaraan. Oiyaa, itu
kondisi sudah malam hari sekitar habis maghrib. Setelah membeli tiket kami pun
menuju dermaga yang sudah berlabuh kapal Ferry di sana.
NGUONGGGGG!!!!
Klason kapal berbunyi sangat keras, tanda kapal akan segera berlayar. Perlahan
kapal mulai bergerak menjauhi dermaga, kami berjalan menuju dek atas kapal
untuk melihat pemandangan. Hanya gelap dan lampu-lampu gemerlapan yang terlihat
ditengah laut menunjukkan adanya kapal-kapal lain yang sedang berlayar juga.
Baru beberapa menit kami berlayar, jam di handphone sudah menambah satu jam
karena perbedaan waktu dari waktu Indonesia bagian Barat (WIB) ke waktu
Indonesia bagian Tengah (WITA), Pulau Bali termasuk dalam waktu Indonesia
bagian Tengah. Penyeberangan menggunakan kapal Ferry ini hanya mebutuhkan waktu
sekitar 45-60 menit saja.
Perlahan-lahan
kapal mulai berlabuh ke dermaga. Setelah kapal berlabuh, kami mulai turun
menyusuri jalur khusus pejalan kaki. Membaca petunjuk arah adalah hal pertama
yang kami lakukan untuk menemukan mushola, karena kami berniat sembahyang dan
bermalam di sana. Setelah itu kami mencari stop kontak namun hanya menemukan
satu stop kontak untuk mengisi batrei handphone, maka kami berpindah tempat ke
pos satpam untuk meminjam rol kabel kalau ada. Sampainya di pos satpam malah
kita ditanya-tanya mau kemana dan darimana, karena kami tidak punya tujuan maka
kami jawab hanya ingin jalan-jalan di sekitar pelabuhan. Tanpa basa-basi pak
satpam tersebut malah mengajak kami untuk menginap di rumahnya setelah jam
kerja beliau berakhir. Pak satpam tersebut namanya Pak Soni. Kami sebenarnya
sudah memutuskan untuk numpang tidur di mushola pelabuhan namun tidak
diperbolehkan oleh Pak Soni dan disuruh menginap di rumahnya, sungguh baik
sekali beliau. Pukul 12 malam kami pun ikut pulang Pak Soni ke rumahnya yang
tidak jauh dari pelabuhan. Beliau tinggal bersama adiknya bernama Riko, kami
memanggilnya Mas Riko. Satu kamar dipersiapkan untuk aku dan Yoga beristirahat.
Pagi
harinya kami sarapan bersama dan Pak Soni juga mempersilakan kami memakai
motornya untuk jalan-jalan mengelilingi daerah sekitar. Aku dan Yoga pun
mengambil kesempatan tersebut, kami berkeliling dengan sepeda motor menuju
tempat-tempat yang belum pernah kami singgahi sebelumnya. Teluk Gilimanuk,
Museum Manusia Purba Gilimanuk, Monumen Lintas Laut Jawa Bali, Pura Segara, dan
Balai Taman Nasioanal Bali Barat tak luput dari kunjungan kami. Setelah puas
bekerliling kami pulang ke rumah Pak Soni. Kami banyak mengobrol dengan beliau
dan adiknya, ternyata mereka adalah orang Banyuwangi.
Malam
harinya kami diantarkan ke pelabuhan untuk menyeberang kembali ke Pulau Jawa,
namun kali ini kami tidak perlu membayar tiket penyeberangan karena ada orang
dalam yang tak lain adalah Pak Soni hahaha. Sebelum kami berpisah dengan
beliau, kami mengucapkan terima kasih karena telah menolong dan sudah mempersilakan
kami menginap di rumahnya tidak lupa kami juga berpesan agar kalau ke Jogja
agar menghubungi kami supaya bisa membalas kebaikannya. Lalu kami pun berjabat
tangan dan saling berpelukan sebagai tanda persaudaraan.
Nahhhh itulah ceritaku
bisa sampai terdampar ke Pulau Bali. Oiyaa ceritanya masih lanjut yaa.
Setelah
kami menyeberang kembali ke Pulau Jawa, waktu menjadi berkurang satu jam karena
perbedaan waktu yang aku sebutkan tadi. Setelah kapal berlabuh ke dermaga kami
turun dan menuju pintu keluar Pelabuhan Ketapang. Keluar dari pelabuhan kami
langsung menuju warung makan yang berada di pinggir jalan karena lapar. Warung
tersebut ternyata juga menyediakan penginapan dan juga jasa tour guide, kami
pun mengbrol dengan pemilik warung dan ditawari untuk jalan-jalan ke Kawah
Ijen, Savana Baluran, dan tempat-tempat wisata yang ada di Banyuwangi, namun
kami menolak dengan halus karena besok pagi akan pulang ke Jogja. Selesai makan
kami bergegas menuju Stasiun Banyuwangi yang terletak di depan Pelabuhan
Ketapang, jadi tinggal jalan sebentar sudah sampai stasiun kok, tidak sampai 5
menit karena emang dekat banget.
Sampai
di stasiun kami meminta ijin kepada pak satpam yang sedang bertugas untuk
numpang tidur di ruang tunggu penumpang. Nasib kami kali ini tidak begitu bagus
karena tidak diperbolehkan, kami pun memutuskan untuk tidur di luar stasiun
dengan matras (alas) yang kami punya. Hahaha memang seperti gembel aku dan Yoga
waktu itu tapi kita tidak mempermasalahkan hal tersebut karena pengalaman
seperti itu akan teringat terus. Alarmku pun berbunyi menunjukkan sudah pukul 5
pagi, Yoga terlihat masih tidur pulas dan aku sengaja tidak membangunkannya.
Penumpang kereta pagi itu mulai ramai dan Yoga masih saja tertidur pulas tapi
tetap saja aku biarkan dan aku berpindah tempat ke ruang tunggu hahaha. Tidak
lama kemudian Yoga mendatangiku sambil menggerutu karena tidak membangunkannya.
Aku hanya menanggapi dengan santai bahwa kasihan melihat dia kecapekan padahal
memang sengaja tidak aku bangunkan hahaha sungguh kocak kalo teringat hal itu.
Dari
microfon terdengar pemberitahuan bahwa penumpang kereta Sri Tanjung sudah
dipersilakan untuk masuk kereta. Kami pun berjalan menuju kereta dan meletakkan
carrier di atas tempat duduk. Awalnya perjalanan
kereta lancar-lancar saja, hanya terlihat hujan di luar kereta dengan
pemandangan sawah-sawah khas pedesaaan. Namun setelah sampai di Stasiun Porong
kami terjebak banjir, kereta pun tidak bisa melintas karena banjir yang
merendam rel kereta cukup tinggi. Masinis menginformasikan bahwa sedang terjadi
banjir di daerah Sidoarjo dan sekitarnya, para penumpang diharapkan bersabar
menunggu sampai banjir surut. Satu jam dua jam kita masih santai-santai saja
karena masih siang hari juga. Ternyata eh ternyata sampai maghrib pun banjir
belum surut dan kami masih terhenti di Stasiun Porong. Banyak penumpang yang
mengeluh kepada pihak kereta api. Entah menanggapi keluhan penumpang atau
memang dari pihak kereta api sudah mempersiapkan rencana alternatif, para
penumpang diarahkan untuk menumpang bus yang sudah disiapkan oleh pihak kereta
api. Hahaha ini terasa piknik naik bus. Ada banyak armada bus yang siap memberi
kami tumpangan sampai stasiun selanjutnya yang tidak terdampak banjir. Kami pun
naik bus yang berukuran besar, mungkin dengan kapasitas penumpang 50an kalau
tidak salah.
Setelah
itu bus pun mulai melaju menuju stasiun berikutnya, kami melihat keadaan
kanan-kiri dari jendela bus terlihat banjir yang cukup tinggi tapi masih bisa
dilewati. Aku duduk di barisan belakang namun tidak paling belakang, karena
bosan dan aku melihat televisi tidak menyala maka aku berinisiatif teriak
kepada pak sopir untuk menyetel lagu dangdut, tanpa disangka-sangka semua penumpang
bus menertawakan aku dan ada yang nyeletuk bilang kalau ini bukan piknik sambil
tertawa kecil. Yoga pun ikut menertawakan aku dan bilang kalau aku malu-maluin
aja. Aku tidak ambil pusing hal tersebut, daripada suasana hening mending
dangdutan kan? hahaha. Kernet bus pun merespon permintaanku dan menyalakan vcd
dangdut. Setelah vcd dinyalakan, seisi bus pun antusias ikut bernyanyi hahaha
kocak tadi ngetawain eh taunya ikut nyanyi juga hahaha. Perjalanan kami pun
terasa bagai piknikan rombongan warga kampung menggunakan bus.
Perjalanan
yang cukup menyenngkan menggunakan bus pun akhirnya terhenti ketika bus sudah
sampai stasiun yang kami tuju (lupa nama stasiunnya). Kami diarahkan untuk
menuju kereta yang sudah disediakan. Cukup lama kami menunggu di kereta karena
belum semua bus yang digunakan untuk evakuasi penumpang sampai di stasiun dan
juga masih menunggu lokomotif berbalik arah untuk menuju arah Yogyakarta.
Setelah semuanya beres, kereta melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir
Yogyakarta dengan perkiraan waktu sampai stasiun tujuan akhir Lempuyangan pukul
06.45. kereta pun melju dengan lancar seperti sedia kala. Benar-benar di luar
rencana kami yang seharusnya sampai Jogja pukul 21.00 malam menjadi pukul 06.45
pagi, hampir 24 jam dihabiskan untuk perjalanan, padahal pagi hari pukul 07.30
aku dan Yoga ada jadwal kuliah.
Sampai
di Stasiun Lempuyangan kami bergegas keluar dan berjanji tetap akan masuk
kuliah karena sudah skip beberapa hari. Aku pun pulang ke rumah dan Yoga pulang
ke kosnya. Sampai di rumah karena lelah aku berniat tidur sebentar sebelum
berangkat kuliah, namun ternyata tidurku cukup lama dan aku lihat sudah puku 9
pagi. Akhirnya aku bilang ibu tidak jadi kuliah karena sudah terlambat, namun
ibu tetap menyuruhku berangkat karena sudah terlalu lama tidak masuk kuliah. Aku
pun bergegas mandi dan siap-siap menuju kampus, sampai di kampus aku lihat
teman-teman sudah nongkrong di kantin dekat parkiran dan terlihat Yoga juga
sudah ada di sana. Ternyata kuliah pagi itu sudah selesai dan aku melewatkan
perkuliahan lagi hahaha.
Jadi begitulah cerita
perjalanan panjangku.. semoga menikamati ceritanya. Terima kasih.