Setelah petualangan di
Gunung Rinjani yang diyakini tempat bersemayamnya Dewi Anjani, beberapa bulan
kemudian aku menginjakkan kaki di atas puncak Mahameru tempat bersemayamnya
Para Dewa. Cuaca yang cerah diiringi dengan suara gemuruh letusan kawah
Jonggring Saloko membuatku semakin penasaran dengan Puncak Mahameru. Pukul 5
pagi aku masih berada di trek pasir menuju puncak. Butuh fisik dan mental yang
kuat untuk bisa melewati trek berpasir lembut dan berbatu ini. Pasirnya sangat
labil, bahkan kalau dibandingkan dengan trek pasirnya Gunung Merapi masih
mendingan trek pasirnya Gunung Merapi. Batu-batuan yang terinjak pun mudah
menggelinding ke bawah. Ketika melihat batu yang menggelinding ke bawah,
secepatnya harus berteriak memberi tahu bahwa ada batu yang jatuh agar
orang-orang yang berada di bawah bersiaga. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi
kecelakaan, karena bisa fatal akibatnya. Dengan tingkat kemiringan yang aku
rasa mencapai 60° ini menambah sulit perjuangan untuk mencapi puncak Mahameru. Meskipun
dari batas vegetasi terlihat dekat, namun nyatanya aku membutuhkan waktu
sekitar 4 jam untuk bisa menginjakkan dua pasang kaki ini di puncak Para Dewa.
Perjuangan beratku
tidak sia-sia, Puncak Mahameru tempat Para Dewa akhirnya bisa aku gapai juga.
Matahari mulai menampakkan wujudnya tapi udara di puncak masih terasa sangat
dingin ditambah dengan kencangnya angin pagi itu. Kondisi itu membuatku
menggigil. Beberapa menit kemudian suara gemuruh pun terdengar dan BOMMMM!!!!
Kawah Jonggring Saloko menyemburkan material ke atas dengan asap yang
membumbung tinggi. Letusan ini terjadi setiap 15-20 menit sekali, jadi dalam
satu jam bisa terjadi 3-4 kali letusan karena Gunung Semeru memiliki tipe erupsi
Strombolian. Para pendaki sangat dilarang untuk mendekat ke kawah karena sangat
berbahaya jika terkena muntahan material Jonggring Saloko. Sebenarnya batas
pendakian Gunung Semeru hanya sampai Pos Kalimati tapi tidak dipungkiri masih
banyak pendaki yang nekat sampai puncak, termasuk aku hehehe.
Menurut cerita, Pulau
Jawa dahulunya terombang-ambing di lautan. Hal itu membuat Para Dewa memaku
Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru dari India ke Jawa. Proses
pemindahan itu dilakukan langsung oleh Para Dewa dengan mengubah wujud mereka
menjadi Kura-kura untuk mengangkut Gunung Meru dan wujud Ular untuk melilitnya.
Sampai saat ini cerita yang melegenda itu masih diyakini oleh masyarakat Jawa.
Setiap gunung mempunyai cerita, legenda, dan mitosnya masing-masing.
Kelestarian kisah-kisah seperti itu harus tetap terjaga meskipun ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin maju.