Jumat, 12 Oktober 2018

Cara Menuju Candi Cetho Menggunakan Transportasi Umum




spilldong.blogspot.com
 

    Salah satu destinasi wisata yang wajib kunjungi jika berkunjung ke Solo yaitu Candi Cetho. Candi bercorak Hindu ini terletak di Barat lereng Gunung Lawu dengan ketinggian 1.496 meter di atas permukaan laut. Bagian depan kompleks candi terdapat gapura yang berdiri menjulang tinggi. Setelah melewati gapura, terdapat arca berbentuk menyerupai alat kelamin laki-laki dan perempuan. Kemudian di belakangnya terdapat anak tangga menuju candi utama. Namun, sebelum sampai ke candi utama kalian harus melewati 3 gapura seperti gapura utama yang ukurannya lebih kecil dan sempit, di kanan dan kiri jalan terdapat bangunan seperti joglo. Ketika melewati gapura yang terakhir akan langsung sampai di depan candi utama, sebelah kanan dan kiri ada sebuah bangunan kecil seperti gubuk. Bangunan tersebut bukan bangunan kosong, di dalamnya terdapat arca yang berbeda-beda bentuknya di setiap bangunan. Candi utama ini berbentuk seperti prisma segi empat yang atapnya lebih kecil dari pondasi bawahnya. Lalu, bagaimana caranya menuju Candi Cetho?

Kalian bisa naik kereta Prameks Jogja-Solo dan turun di Stasiun Solobalapan. Tenang saja, harga tiketnya murah kok. Hanya dengan 8.000 rupiah kalian sudah bisa naik sampai Solo. Waktu tempuhnya juga cepat sekitar 1 jam. Atau kalian juga bisa naik bus dari Jogja sampai Terminal Tirtonadi dengan tarif sekitar 15.000-20.000 rupiah. Namun waktunya akan sedikit lebih lama dibandingkan naik kereta.

Jika kalian naik kereta, setelah keluar kalian bisa langsung naik tangga menuju sky bridge (jembatan penghubung). Sky brigde ini menghubungkan antara Stasiun Solobalapan dengan Terminal Tirtonadi. Dari atas sky bridge terlihat pemandangan kota Solo yang indah dan juga terlihat panjangnya rel kereta yang telah kalian lewati. Setelah sampai terminal kalian bisa bertanya kepada petugas yang sedang berjaga di terminal untuk ditunjukkan bus yang menuju Terminal Karang Pandan. Tarif bus sekitar 10.000 rupiah dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam.

Setelah sampai di Terminal Karang Pandan, harus berganti bus berukuran kecil menuju Kemuning. Tarifnya cukup murah sebesar 5.000 rupiah dengan waktu tempuh tidak sampai setengah jam. Kalian akan diturunkan di pinggir jalan dekat pos ojek.

Nah, dari Kemuning kalian harus naik ojek untuk sampai Candi Cetho dengan tarif sekali jalan kurang lebih 30.000 rupiah. Kalian bisa bernegosiasi juga untuk menunggui di Candi Cetho sampai kalian selesai berwisata, usahakan jago bernegosiasi agar mendapat harga yang terbaik dan sama-sama saling menguntungkan.

Untuk harga tiket masuk kompleks Candi Cetho kalian cukup membyar seharga 10.000 rupiah. Selain itu kalian juga harus menggunakan kain/jarik kotak-kotak dengan biaya se-ikhlasnya.

Okee jadi begitulah cara menuju Candi Cetho menggunakan transportasi umum, semoga bermanfaat dan selamat liburan.

Selasa, 09 Januari 2018

Tujuan ke Kawah Ijen, Terdampar di Pulau Bali, dan Terjebak Banjir di Porong

 




Pernah mendengar nama “Blue fire”? Yaa, api biru yang langka dan hanya terdapat 2 di dunia, salah satunya berada di negara kita tercinta yaitu Indonesia tepatnya di Gunung Ijen. Alasan tersebut yang membuatku tertarik untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Tanpa pikir panjang aku mengajak teman kuliahku bernama Yoga. Kami pun sepakat untuk ke Gunung Ijen meskipun ada jadwal kuliah. Setelah semua informasi aku dapatkan, langsung aku susun itinerary dan ternyata hanya membutuhkan waktu 5 hari dengan rencana bonus menikmati kota Banyuwangi. Satu minggu kemudian kami skip kuilah beberapa hari untuk berpetualang.

Kami berangkat dari Stasiun Lempunyangan menuju Stasiun Banyuwangi dengan durasi kurang lebih 13 jam. Bayangin aja tuh naik kereta ekonomi dengan kursi yang sangat tegap selama 13 jam, mantab kan? Hahaha. Kami berangkat pagi hari dan sampai Banyuwangi malam hari. Setelah sampai, kami pun keluar stasiun dan langsung memesan ojek untuk diantarkan ke desa terakhir sebelum menuju pos Pal Tuding. Sesampainya di Desa Licin (kalau nggak salah, soalnya lupa namanya) kami turun dan menunggu mobil pick up yang biasa mengangkut sayuran melintasi pos Pal Tuding. Nggak butuh waktu lama kami mencegat sebuah mobil pick up yang melintas meminta ijin menumpang sampai pos Pal Tuding. Setelah diijinkan kami bergegas mengambil carrier (tas gunung) yang kami letakkan di pinggir jalan lalu naik di bak belakang mobil. Saya lihat jam tangan menunjukkan pukul 23.15. Jalanan sangat gelap tanpa penerangan dengan hanya ada lampu mobil yang kami tumpangi, kanan-kiri terlihat pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi atau bisa dikatakan hutan. Sungguh sepi dan sunyi tidak ada rumah warga, namun ada beberapa warung yang tutup mungkin karena sudah terlalu malam juga.

Kurang lebih 1,5 jam kami lewati hutan akhirnya sampai juga di pos Pal Tuding, kami pun dipersilakan turun. Kami berterima kasih kepada pak sopir dan langsung menuju warung untuk membeli kopi sebagai penghangat badan karena sudah sangat kedinginan selama perjalanan. Kami mengobrol santai dengan penjual di warung dan menanyakan di mana tempat pembelian tiket pendakian, maklum baru pertama kali mengunjungi Gunung Ijen hehe. Tak lama kemudian kami menuju sebuah bangunan kecil di samping parkiran yang tak lain adalah loket untuk pembelian tiket.

Harga tiket untuk wisataman domestik 5.000 per malam, aku  membeli 2 untuk diriku dan Yoga. Setelah tiket terbeli kami mendirikan tenda di camping ground samping parkiran. Fyi, tidak boleh camping di atas gunung karena gas belerang yang berbahaya maka disediakan tempat camping dekat parkiran (info dari penjaga loket). Pukul 00.00 WIB atau jam 12 malam banyak wisatawan yang mulai mendaki untuk melihat blue fire. Kenapa jam 12 malam mulai mendaki? Karena blue fire atau api biru biasa keluar menjelang pagi hari dan akan habis ketika sinar matahari sudah mulai nampak., biasanya sekitar pukul 3 samapai 4 pagi adalah waktu yang bagus untuk melihat si api biru, kata bapak penjaga loket.

Selesai kami mendirikan tenda dan istirahat sebentar, kami langsung tancap gas mendaki Gunung Ijen. Jalurnya berupa tanah yang rata dan cukup menanjak, butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai puncak namun tergantung kondisi fisik masing-masing. Kalau mau menghemat tenaga kalian bisa naik ojek taksi, yaitu gerobak yang biasanya untuk mengangkut belerang oleh penambang namun dijadikan angkutan manusia. Harganya cukup mahal untuk ukuran kantong kami yang seorang mahasiswa. Biasanya satu penumpang ditarik 2-3 orang penambang namun kalau dari atas ke bawah cukup 2 orang saja.

Bau belerang mulai tercium menandakan kami sudah hampir sampai puncak Gunung Ijen, disarankan untuk memakai masker khusus agar tidak tersengat belerang yang bisa mengganggu kesehatan. Kalian bisa sewa masker tersebut dari orang-orang yang emang menyediakan penyewaan masker, di bawah dekat loket atau pun di atas sebelum puncak orang-orang tersebut biasanya berada. Kami memutuskan dengan tidak menyewa masker dan hanya menggunakan buff semacam masker kain yang sebenarnya tidak boleh digunakan namun kami berinisiatif membasahinya agar mampu menahan sengatan bau belerang (jangan ditiru!). Ketika sampai puncak, perjuangan kami belum tuntas karena masih harus menuju ke bawah arah kawah dengan medan yang berbatu dan sangat terjal, serta diselimuti dinginnya udara malam dan arah gas belerang yang kadang-kadang mengarah ke jalur menuju kawah.

Pelan namun pasti kamu mulai menuruni jalur berbatu yang curam. Gas belerang tentu saja menjadi penghambat terberat kami, namun kami tetap hati-hati dan fokus melihat jalan menggunakan senter yang kami bawa masing-masing. Setelah setengah perjalanan kami pun bisa melihat blue fire dari jarak yang lumayan jauh, itu membuat kami tambah semangat untuk sampai ke kawah. Perjuangan berat kami tidak sia-sia, api biru alami yang sangat indah bisa kami lihat dengan mata kepala sendiri dan itu adalah tujuan utamaku. Ada beberapa titik yang mncul api biru, meskipun tidak terlihat yang besar namun cukup bagiku melegakan hati.

Lalu terdampar ke Pulau Bali kapan, Iz? Sabarrr, sebenarnya cerita masih panjang tapi nanti aku skip biar tidak terlalu panjang hehehe.

Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya namun kami masih stay di kawah karena ingin berfoto-foto dengan latar pemandangan kawah dan penambang belerang. Sebenernya di balik indahnya kawah Gunung Ijen ada cerita yang cukup membuat hati terketuk (versi saya). Cerita itu dari seorang penambang belerang yang umurnya kisaran 40an tahun ke atas. Mereka menambang secara bergantian karena pipa belerang tidak banyak, biasanya mereka harus antre dahulu dan hanya bisa menambang sebanyak 2-3 kali dalam satu hari dengan beban belerang rata-rata 25kg. Mereka memikul belerang tersebut dari kawah sampai puncak dengan medan bebatun yang terjal, belum lagi kalau habis hujan biasanya licin. Sampai puncak mereka menggunakan gerobak untuk membawa turun ke pos pengumpulan belerang. Waktu itu salah seorang penambang bercerita kalau 1kg belerang dihargai 925 sampai 1.200 rupiah.


                                                                                                                                     

 

spilldong.blogspot.com

 

Okee lanjut ke cerita perjalanan kami, setelah puas berfoto dan gas belerang sudah mulai tebal, kami putuskan naik ke puncak lalu trurun kembali ke camping ground untuk beristirahat dan makan siang. Kami berencana bermalam lagi di caming ground tersebut, namun kami merasa sangat bosan dan memutuskan untuk mendaki sekali lagi hahaha gila memang baru turun pagi, malamnya mendaki lagi. Pendakian ke dua kami pun tercapai dalam sekali kunjungan ke Gunung Ijen, pendakian ke dua ini yaa ceritanya hampir sama dengan pendakian pertama karena jalur dan tujuannya juga sama jadi tidak perlu diceritakan lagi yaa hehehe.

Setelah turun dari pendakian ke dua, kami membongkar tenda dan lanjut untuk turun ke kota Banyuwangi. Lalu kami bertanya ke warung kopi yang di hari pertama kita datangin untuk menanyakan informasi jam operasional truk angkutan belerang turun ke kota. Jawaban penjual kopi itu membuat kita kaget campur lemas karenadi luar rencana ternyata truk yang biasa mengangkut belerang dari Pal Tuding turun ke kota hari itu libur. Bommmm!!! Aku dan Yoga pun hanya bisa menertawakan keadaan kami sekarang ini yang entah bagaimana cara kami turun ke kota. Fyi, hari Sabtu dan Minggu tidak ada truk yang beroperasi dan kita rencana turun ke kota hari Sabtu. Kami pun berdiskusi sebentar untuk menyewa ojek namun ternyata juga tidak ada ojek sama sekali, kami semakin kebingungan. Akhirnya kami berinisiatif pendekatan dengan tukang bangunan yang sedang mengerjakan sebuah proyek di dekat parkiran, intinya kami meminta tolong untuk diantar turun ke kota hahaha kasihan sekali nasib kami.

Beruntungnya kami, ada 2 orang yang bersedia mengantar kami ke kota tanpa meminta bayaran, namun tetap saja kami memberi sedikit rejeki walaupun tidak seberapa karena sudah menolong kami. Sampai di kota Banyuwangi kami seperti tidak punya tujuan karena rencana awal kami hanya jalan-jalan di kota. Merasa kurang greget untuk menjelajahi kota Banyunwangi, aku mengajak Yoga untuk menyebrang ke Pulau Bali namun dia menolak karena kondisi keuangan kami yang sudah sekarat. Dengan sedikit iming-iming aku paksa Yoga menuruti ajakanku, akhirnya dia terhasut juga hahaha. Kita memesan ojek online untuk mengantar ke Pelabuhan Ketapang. Sampai di depan pelabuhan kita langsung masuk menuju loket untuk membeli tiket penyebrangan, harganya 6.500 karena kita tidak membawa kendaraan. Oiyaa, itu kondisi sudah malam hari sekitar habis maghrib. Setelah membeli tiket kami pun menuju dermaga yang sudah berlabuh kapal Ferry di sana.

NGUONGGGGG!!!! Klason kapal berbunyi sangat keras, tanda kapal akan segera berlayar. Perlahan kapal mulai bergerak menjauhi dermaga, kami berjalan menuju dek atas kapal untuk melihat pemandangan. Hanya gelap dan lampu-lampu gemerlapan yang terlihat ditengah laut menunjukkan adanya kapal-kapal lain yang sedang berlayar juga. Baru beberapa menit kami berlayar, jam di handphone sudah menambah satu jam karena perbedaan waktu dari waktu Indonesia bagian Barat (WIB) ke waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), Pulau Bali termasuk dalam waktu Indonesia bagian Tengah. Penyeberangan menggunakan kapal Ferry ini hanya mebutuhkan waktu sekitar 45-60 menit saja.

Perlahan-lahan kapal mulai berlabuh ke dermaga. Setelah kapal berlabuh, kami mulai turun menyusuri jalur khusus pejalan kaki. Membaca petunjuk arah adalah hal pertama yang kami lakukan untuk menemukan mushola, karena kami berniat sembahyang dan bermalam di sana. Setelah itu kami mencari stop kontak namun hanya menemukan satu stop kontak untuk mengisi batrei handphone, maka kami berpindah tempat ke pos satpam untuk meminjam rol kabel kalau ada. Sampainya di pos satpam malah kita ditanya-tanya mau kemana dan darimana, karena kami tidak punya tujuan maka kami jawab hanya ingin jalan-jalan di sekitar pelabuhan. Tanpa basa-basi pak satpam tersebut malah mengajak kami untuk menginap di rumahnya setelah jam kerja beliau berakhir. Pak satpam tersebut namanya Pak Soni. Kami sebenarnya sudah memutuskan untuk numpang tidur di mushola pelabuhan namun tidak diperbolehkan oleh Pak Soni dan disuruh menginap di rumahnya, sungguh baik sekali beliau. Pukul 12 malam kami pun ikut pulang Pak Soni ke rumahnya yang tidak jauh dari pelabuhan. Beliau tinggal bersama adiknya bernama Riko, kami memanggilnya Mas Riko. Satu kamar dipersiapkan untuk aku dan Yoga beristirahat.

Pagi harinya kami sarapan bersama dan Pak Soni juga mempersilakan kami memakai motornya untuk jalan-jalan mengelilingi daerah sekitar. Aku dan Yoga pun mengambil kesempatan tersebut, kami berkeliling dengan sepeda motor menuju tempat-tempat yang belum pernah kami singgahi sebelumnya. Teluk Gilimanuk, Museum Manusia Purba Gilimanuk, Monumen Lintas Laut Jawa Bali, Pura Segara, dan Balai Taman Nasioanal Bali Barat tak luput dari kunjungan kami. Setelah puas bekerliling kami pulang ke rumah Pak Soni. Kami banyak mengobrol dengan beliau dan adiknya, ternyata mereka adalah orang Banyuwangi.


 
spilldong.blogspot.com

Malam harinya kami diantarkan ke pelabuhan untuk menyeberang kembali ke Pulau Jawa, namun kali ini kami tidak perlu membayar tiket penyeberangan karena ada orang dalam yang tak lain adalah Pak Soni hahaha. Sebelum kami berpisah dengan beliau, kami mengucapkan terima kasih karena telah menolong dan sudah mempersilakan kami menginap di rumahnya tidak lupa kami juga berpesan agar kalau ke Jogja agar menghubungi kami supaya bisa membalas kebaikannya. Lalu kami pun berjabat tangan dan saling berpelukan sebagai tanda persaudaraan.

Nahhhh itulah ceritaku bisa sampai terdampar ke Pulau Bali. Oiyaa ceritanya masih lanjut yaa.

Setelah kami menyeberang kembali ke Pulau Jawa, waktu menjadi berkurang satu jam karena perbedaan waktu yang aku sebutkan tadi. Setelah kapal berlabuh ke dermaga kami turun dan menuju pintu keluar Pelabuhan Ketapang. Keluar dari pelabuhan kami langsung menuju warung makan yang berada di pinggir jalan karena lapar. Warung tersebut ternyata juga menyediakan penginapan dan juga jasa tour guide, kami pun mengbrol dengan pemilik warung dan ditawari untuk jalan-jalan ke Kawah Ijen, Savana Baluran, dan tempat-tempat wisata yang ada di Banyuwangi, namun kami menolak dengan halus karena besok pagi akan pulang ke Jogja. Selesai makan kami bergegas menuju Stasiun Banyuwangi yang terletak di depan Pelabuhan Ketapang, jadi tinggal jalan sebentar sudah sampai stasiun kok, tidak sampai 5 menit karena emang dekat banget.

Sampai di stasiun kami meminta ijin kepada pak satpam yang sedang bertugas untuk numpang tidur di ruang tunggu penumpang. Nasib kami kali ini tidak begitu bagus karena tidak diperbolehkan, kami pun memutuskan untuk tidur di luar stasiun dengan matras (alas) yang kami punya. Hahaha memang seperti gembel aku dan Yoga waktu itu tapi kita tidak mempermasalahkan hal tersebut karena pengalaman seperti itu akan teringat terus. Alarmku pun berbunyi menunjukkan sudah pukul 5 pagi, Yoga terlihat masih tidur pulas dan aku sengaja tidak membangunkannya. Penumpang kereta pagi itu mulai ramai dan Yoga masih saja tertidur pulas tapi tetap saja aku biarkan dan aku berpindah tempat ke ruang tunggu hahaha. Tidak lama kemudian Yoga mendatangiku sambil menggerutu karena tidak membangunkannya. Aku hanya menanggapi dengan santai bahwa kasihan melihat dia kecapekan padahal memang sengaja tidak aku bangunkan hahaha sungguh kocak kalo teringat hal itu.

Dari microfon terdengar pemberitahuan bahwa penumpang kereta Sri Tanjung sudah dipersilakan untuk masuk kereta. Kami pun berjalan menuju kereta dan meletakkan carrier di atas tempat duduk. Awalnya perjalanan kereta lancar-lancar saja, hanya terlihat hujan di luar kereta dengan pemandangan sawah-sawah khas pedesaaan. Namun setelah sampai di Stasiun Porong kami terjebak banjir, kereta pun tidak bisa melintas karena banjir yang merendam rel kereta cukup tinggi. Masinis menginformasikan bahwa sedang terjadi banjir di daerah Sidoarjo dan sekitarnya, para penumpang diharapkan bersabar menunggu sampai banjir surut. Satu jam dua jam kita masih santai-santai saja karena masih siang hari juga. Ternyata eh ternyata sampai maghrib pun banjir belum surut dan kami masih terhenti di Stasiun Porong. Banyak penumpang yang mengeluh kepada pihak kereta api. Entah menanggapi keluhan penumpang atau memang dari pihak kereta api sudah mempersiapkan rencana alternatif, para penumpang diarahkan untuk menumpang bus yang sudah disiapkan oleh pihak kereta api. Hahaha ini terasa piknik naik bus. Ada banyak armada bus yang siap memberi kami tumpangan sampai stasiun selanjutnya yang tidak terdampak banjir. Kami pun naik bus yang berukuran besar, mungkin dengan kapasitas penumpang 50an kalau tidak salah.


 

 

spilldong.blogspot.com

Setelah itu bus pun mulai melaju menuju stasiun berikutnya, kami melihat keadaan kanan-kiri dari jendela bus terlihat banjir yang cukup tinggi tapi masih bisa dilewati. Aku duduk di barisan belakang namun tidak paling belakang, karena bosan dan aku melihat televisi tidak menyala maka aku berinisiatif teriak kepada pak sopir untuk menyetel lagu dangdut, tanpa disangka-sangka semua penumpang bus menertawakan aku dan ada yang nyeletuk bilang kalau ini bukan piknik sambil tertawa kecil. Yoga pun ikut menertawakan aku dan bilang kalau aku malu-maluin aja. Aku tidak ambil pusing hal tersebut, daripada suasana hening mending dangdutan kan? hahaha. Kernet bus pun merespon permintaanku dan menyalakan vcd dangdut. Setelah vcd dinyalakan, seisi bus pun antusias ikut bernyanyi hahaha kocak tadi ngetawain eh taunya ikut nyanyi juga hahaha. Perjalanan kami pun terasa bagai piknikan rombongan warga kampung menggunakan bus.

Perjalanan yang cukup menyenngkan menggunakan bus pun akhirnya terhenti ketika bus sudah sampai stasiun yang kami tuju (lupa nama stasiunnya). Kami diarahkan untuk menuju kereta yang sudah disediakan. Cukup lama kami menunggu di kereta karena belum semua bus yang digunakan untuk evakuasi penumpang sampai di stasiun dan juga masih menunggu lokomotif berbalik arah untuk menuju arah Yogyakarta. Setelah semuanya beres, kereta melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir Yogyakarta dengan perkiraan waktu sampai stasiun tujuan akhir Lempuyangan pukul 06.45. kereta pun melju dengan lancar seperti sedia kala. Benar-benar di luar rencana kami yang seharusnya sampai Jogja pukul 21.00 malam menjadi pukul 06.45 pagi, hampir 24 jam dihabiskan untuk perjalanan, padahal pagi hari pukul 07.30 aku dan Yoga ada jadwal kuliah.

Sampai di Stasiun Lempuyangan kami bergegas keluar dan berjanji tetap akan masuk kuliah karena sudah skip beberapa hari. Aku pun pulang ke rumah dan Yoga pulang ke kosnya. Sampai di rumah karena lelah aku berniat tidur sebentar sebelum berangkat kuliah, namun ternyata tidurku cukup lama dan aku lihat sudah puku 9 pagi. Akhirnya aku bilang ibu tidak jadi kuliah karena sudah terlambat, namun ibu tetap menyuruhku berangkat karena sudah terlalu lama tidak masuk kuliah. Aku pun bergegas mandi dan siap-siap menuju kampus, sampai di kampus aku lihat teman-teman sudah nongkrong di kantin dekat parkiran dan terlihat Yoga juga sudah ada di sana. Ternyata kuliah pagi itu sudah selesai dan aku melewatkan perkuliahan lagi hahaha.

Jadi begitulah cerita perjalanan panjangku.. semoga menikamati ceritanya. Terima kasih.

Jumat, 12 Agustus 2016

Puncak Para Dewa

spilldong.blogspot.com

Setelah petualangan di Gunung Rinjani yang diyakini tempat bersemayamnya Dewi Anjani, beberapa bulan kemudian aku menginjakkan kaki di atas puncak Mahameru tempat bersemayamnya Para Dewa. Cuaca yang cerah diiringi dengan suara gemuruh letusan kawah Jonggring Saloko membuatku semakin penasaran dengan Puncak Mahameru. Pukul 5 pagi aku masih berada di trek pasir menuju puncak. Butuh fisik dan mental yang kuat untuk bisa melewati trek berpasir lembut dan berbatu ini. Pasirnya sangat labil, bahkan kalau dibandingkan dengan trek pasirnya Gunung Merapi masih mendingan trek pasirnya Gunung Merapi. Batu-batuan yang terinjak pun mudah menggelinding ke bawah. Ketika melihat batu yang menggelinding ke bawah, secepatnya harus berteriak memberi tahu bahwa ada batu yang jatuh agar orang-orang yang berada di bawah bersiaga. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kecelakaan, karena bisa fatal akibatnya. Dengan tingkat kemiringan yang aku rasa mencapai 60° ini menambah sulit perjuangan untuk mencapi puncak Mahameru. Meskipun dari batas vegetasi terlihat dekat, namun nyatanya aku membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk bisa menginjakkan dua pasang kaki ini di puncak Para Dewa.

Perjuangan beratku tidak sia-sia, Puncak Mahameru tempat Para Dewa akhirnya bisa aku gapai juga. Matahari mulai menampakkan wujudnya tapi udara di puncak masih terasa sangat dingin ditambah dengan kencangnya angin pagi itu. Kondisi itu membuatku menggigil. Beberapa menit kemudian suara gemuruh pun terdengar dan BOMMMM!!!! Kawah Jonggring Saloko menyemburkan material ke atas dengan asap yang membumbung tinggi. Letusan ini terjadi setiap 15-20 menit sekali, jadi dalam satu jam bisa terjadi 3-4 kali letusan karena Gunung Semeru memiliki tipe erupsi Strombolian. Para pendaki sangat dilarang untuk mendekat ke kawah karena sangat berbahaya jika terkena muntahan material Jonggring Saloko. Sebenarnya batas pendakian Gunung Semeru hanya sampai Pos Kalimati tapi tidak dipungkiri masih banyak pendaki yang nekat sampai puncak, termasuk aku hehehe.

Menurut cerita, Pulau Jawa dahulunya terombang-ambing di lautan. Hal itu membuat Para Dewa memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru dari India ke Jawa. Proses pemindahan itu dilakukan langsung oleh Para Dewa dengan mengubah wujud mereka menjadi Kura-kura untuk mengangkut Gunung Meru dan wujud Ular untuk melilitnya. Sampai saat ini cerita yang melegenda itu masih diyakini oleh masyarakat Jawa. Setiap gunung mempunyai cerita, legenda, dan mitosnya masing-masing. Kelestarian kisah-kisah seperti itu harus tetap terjaga meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju.


 

Cara Menuju Candi Cetho Menggunakan Transportasi Umum

       Salah satu destinasi wisata yang wajib kunjungi jika berkunjung ke Solo yaitu Candi Cetho. Candi bercorak Hindu ini terletak di Barat...