Mendaki gunung? Tidak pernah
terlintas dalam pikiranku sebelumnya. Semua bermula ketika Nindia teman sekolah
SMP ku yang tiba-tiba menghubungiku mengajak mendaki gunung bersama teman
sekolahnya. Sebenarnya aku ragu untuk menerima ajakannya, namun karena setelah
ujian nasional (SMK) selesai aku tidak ada kegiatan jadi aku memutuskan untuk
ikut. Setelah itu kita janjian untuk bertemu membahas persiapan mendaki gunung
bersama teman-temannya.
Kita akan mendaki
gunung Andong yang berada di Magelang. Tim kita terdiri dari 5 cowok dan 3
cewek. Aku belum pernah sama sekali mendaki gunung dan iu membuatku bingung apa
saja yang harus aku persiapkan. Namun semua terkendali setelah Mas Tindo
menjelaskan perlengkapan dan etika mendaki gunung.
Menggunkan sepeda
motor, saling berboncengan, dan membawa carrier (tas gunung) dari Jogja menuju
Magelang cukup membuat boyok pegel karena belum terbiasa. Kita beristirahat di
basecamp Pendem. Registrasi untuk mendaki gunung Andong sudah diurus semua oleh
mas Tindo. Harga tiketnya 10.000 rupiah untuk setiap orang dan parkir sepeda
motor 5.000 rupiah. Suasana basecamp tidak begitu ramai.
Malam hari setelah
solat isya kita bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Setelah semua siap, kita
langsung mulai pendakian. Jalur awal melewati perkebunan warga dengan medan
tanah yang sedikit menanjak. Lalu mulai memasuki area hutan yang gelap dan
dingin. Jalur ini membuat kita cukup lelah karena berbentuk zig-zag dan sangat
menanjak. Sering sekali kita berhenti untuk berisitirahat namun dibatasi tidak
boleh lebih dari 5 menit. Itu untuk menjaga agar badan kita tidak kedinginan
karena terlalu lama beristirahat.
Pengalaman yang sangat
baru bagiku dengan petualangan seperti ini. Meskipun kita baru kenal beberapa
hari tapi terasa sudah kenal lama. Obrolan hangat dan canda tawa menemani malam
pendakian kita. Setelah hampir 5 jam kita mendaki, akhirnya sampai juga di
puncak Alap-alap. Walaupun gunung Andong hanya memilki ketinggian 1.726 mdpl
namun membuatku lelah. Maklum pemula hahaha.
Susana puncak tidak
begitu ramai, hanya ada beberapa tenda. Kita mendirikan tenda di puncak. Angin
sangat kencang dan dingin. Kita mendirikan 2 tenda untuk cowok sendiri dan
cewek sendiri. Setelah semua tenda berdiri, kita masuk ke tenda masing-masing. Mie
instan adalah menu makan malam kita malam itu. Dalam satu wadah kita saling
berbagi. Kita bergntian menikamti mie instan yang terasa sangat istimewa.
Pagi harinya ternyata
semesta tidak mendukung kita, kabut tebal dan angin kencang menyambut kita di
luar tenda. Melanjutkan tidur adalah keputusan tepat hahaha. Menjelang siang
hari, kabu sudah hilang dan terlihat pemandangan yang cukup mengesankan. Terlihat
gunung Merbabu dan Merapi yang gagah tertutup sedikit awan. Dari puncak juga
terlihat seperti kita berada di atas awan meski tidak secantik samudra awan.
Sekitar jam 11 siang
kita memutuskan untuk membongkar tenda lalu turun ke basecamp. Lama perjalanan
dari basecamp menuju puncak dengan dari puncak menuju basecamp sangat berbeda. Kita
turun sampai basecamp hanya membutuhkan sekitar 2 jam saja, karena tidak banyak
beristirahat. Di basecamp kita membersihan diri lalu bergegas pulang ke rumah.
Dari kegiatan itu aku mendapat
banyak pengetahuan baru dan tentunya teman baru. Sungguh pengalaman yang
menakjubkan dan sepertinya aku akan kecanduan untuk mendaki gunung lagi hahaha.