Kamis, 14 Mei 2015

First Time Mendaki Gunung


Mendaki gunung? Tidak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya. Semua bermula ketika Nindia teman sekolah SMP ku yang tiba-tiba menghubungiku mengajak mendaki gunung bersama teman sekolahnya. Sebenarnya aku ragu untuk menerima ajakannya, namun karena setelah ujian nasional (SMK) selesai aku tidak ada kegiatan jadi aku memutuskan untuk ikut. Setelah itu kita janjian untuk bertemu membahas persiapan mendaki gunung bersama teman-temannya.

Kita akan mendaki gunung Andong yang berada di Magelang. Tim kita terdiri dari 5 cowok dan 3 cewek. Aku belum pernah sama sekali mendaki gunung dan iu membuatku bingung apa saja yang harus aku persiapkan. Namun semua terkendali setelah Mas Tindo menjelaskan perlengkapan dan etika mendaki gunung.

Menggunkan sepeda motor, saling berboncengan, dan membawa carrier (tas gunung) dari Jogja menuju Magelang cukup membuat boyok pegel karena belum terbiasa. Kita beristirahat di basecamp Pendem. Registrasi untuk mendaki gunung Andong sudah diurus semua oleh mas Tindo. Harga tiketnya 10.000 rupiah untuk setiap orang dan parkir sepeda motor 5.000 rupiah. Suasana basecamp tidak begitu ramai.

Malam hari setelah solat isya kita bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Setelah semua siap, kita langsung mulai pendakian. Jalur awal melewati perkebunan warga dengan medan tanah yang sedikit menanjak. Lalu mulai memasuki area hutan yang gelap dan dingin. Jalur ini membuat kita cukup lelah karena berbentuk zig-zag dan sangat menanjak. Sering sekali kita berhenti untuk berisitirahat namun dibatasi tidak boleh lebih dari 5 menit. Itu untuk menjaga agar badan kita tidak kedinginan karena terlalu lama beristirahat.

Pengalaman yang sangat baru bagiku dengan petualangan seperti ini. Meskipun kita baru kenal beberapa hari tapi terasa sudah kenal lama. Obrolan hangat dan canda tawa menemani malam pendakian kita. Setelah hampir 5 jam kita mendaki, akhirnya sampai juga di puncak Alap-alap. Walaupun gunung Andong hanya memilki ketinggian 1.726 mdpl namun membuatku lelah. Maklum pemula hahaha.

Susana puncak tidak begitu ramai, hanya ada beberapa tenda. Kita mendirikan tenda di puncak. Angin sangat kencang dan dingin. Kita mendirikan 2 tenda untuk cowok sendiri dan cewek sendiri. Setelah semua tenda berdiri, kita masuk ke tenda masing-masing. Mie instan adalah menu makan malam kita malam itu. Dalam satu wadah kita saling berbagi. Kita bergntian menikamti mie instan yang terasa sangat istimewa.

Pagi harinya ternyata semesta tidak mendukung kita, kabut tebal dan angin kencang menyambut kita di luar tenda. Melanjutkan tidur adalah keputusan tepat hahaha. Menjelang siang hari, kabu sudah hilang dan terlihat pemandangan yang cukup mengesankan. Terlihat gunung Merbabu dan Merapi yang gagah tertutup sedikit awan. Dari puncak juga terlihat seperti kita berada di atas awan meski tidak secantik samudra awan.

Sekitar jam 11 siang kita memutuskan untuk membongkar tenda lalu turun ke basecamp. Lama perjalanan dari basecamp menuju puncak dengan dari puncak menuju basecamp sangat berbeda. Kita turun sampai basecamp hanya membutuhkan sekitar 2 jam saja, karena tidak banyak beristirahat. Di basecamp kita membersihan diri lalu bergegas pulang ke rumah.

Dari kegiatan itu aku mendapat banyak pengetahuan baru dan tentunya teman baru. Sungguh pengalaman yang menakjubkan dan sepertinya aku akan kecanduan untuk mendaki gunung lagi hahaha.





 



Cara Menuju Candi Cetho Menggunakan Transportasi Umum

       Salah satu destinasi wisata yang wajib kunjungi jika berkunjung ke Solo yaitu Candi Cetho. Candi bercorak Hindu ini terletak di Barat...