Pukul 9 malam aku dan
Dani berangkat dari Jogja menuju Purbanlingga menaiki sepeda motor. Perjalanan
cukup lancar, sampai di daerah Gombong ban kami kempes. Malam itu jalanan sudah
mulai sepi, hanya ada truk-truk besar yang melintas. Kami mendorong sepeda
motor lumayan jauh hingga menemukan bengkel yang masih buka. Selesai menambal
ban, perjalanan kami lanjutkan.
Sekitar pukul 02.30
dini hari kami sampai di basecam pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Suasana
cukup ramai oleh pendaki yang bermalam di basecamp. Aku dan Dani pun bergegas
istirahat agar besok pagi badan terasa fit untuk mendaki. Udara di basecamp
cukup dingin karena letaknya yang berada di ketinggian 1.279 mdpl.
Pagi harinya kami
melakukan registrasi pendakian. Setelah selesai, Aku dan Dani langsung tancap
gas. Trek awal kami berupa jalan cor yang menanjak. Ketika sampai area
perkebunan warga, medan yang kami lewati berupa tanah padat. Trek pendakian
melalui jalur Bambangan ini sangat diperlukan kondisi badan yang fit karena
tidak ada bonusnya (jalur landai). Target kami yaitu camping ground di pos 7
agar tidak terlalu jauh dari puncak. perkiraan waktu untuk sampai pos 7 sekitar
6-7 jam. Sebelum sampai di pos 7, ada atu pos bernama Pos Samarantu yang
kebanyakan orang bilang pos paling angker di Gunung Slamet. Gunung Slamet ini
mempunyai tipe vegetasi yang tertutup, jadi jalur pendakian pun teduh ketika
siang hari. Pohon-pohon besar dan sedikit berlumut menjadi pemandangan yang
sudah biasa. Kalau hujan treknya pun terkadang bisa jadi sungai dadakan.
Kami sampai juga di Pos
Samarantu. Terdapat sedikit tempat untuk mendirikan tenda, mungkin 4-5 tenda.
Pos tersebut dikelilingi pohon-pohon besar yang membuat nuansa menjadi
bertambah seram. Kami beristirahat sebentar di pos ini untuk sekedar mengatur
nafas agar stabil kembali. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba hujan
deras turun padahal kondisi langit tidak mendung sama sekali. Karena saking
derasnya, trek yang kami lewati pun berubah menjadi sungai. Kami tetap
melanjutkan perjalanan menembus aliran air. Sepatu yang berlabel waterproof pun
tetap basah kuyub karena aliran air yang sangat deras.
Ketika sampai di Pos 7
pukul 16.15 hujan masih cukup deras. Kami beristirahat di shelter Pos 7
menunggu hujan reda. Kompor dan gas kami keluarkan untuk memasak air panas
sebagai penghangat. Tidak lama setelah itu hujan pun reda. Kami mendirikan
tenda di samping shelter dekat pohon yang cukup tinggi agar bisa menahan angin
kencang. Malamnya kami memasak lauk sederhana, sayur sop dengan lauk tempe goreng.
Kami makan di luar tenda karena malam itu cuaca cerah setelah diguyur hujan
deras. Aku mengajak Dani untuk summit attack pukul 3 pagi agar bisa melihat
sunrise di puncak.
Alarm kami berbunyi
pukul 03.00 dini hari. Dani mencoba untuk membangunkanku, namun aku tidak juga
bangun. Setengah jam kemudian dia masih mencoba membangunkanku, aku pun
terbangun. Karena aku merasa masih sangat ngantuk maka kuputuskan untuk tidur
sebentar lagi. Sekitar jam 4 pagi, Dani membangunkanku lagi untuk mengajak
summit. Aku terbangun, namun aku menolak dan masih ingin tidur. Akhirnya dia
menyerah dan memutuskan untuk tidur juga. Pukul 06.30 alarmku berbunyi lagi
karena memang biasa aku mensetting jam segitu. Aku pun terbangun dengan badan
terasa segar. Aku lihat Dani masih tidur pulas, lalu kubangunkan. Dia pun
terbangun namun tidak berkata apa-apa. Sepertinya jengkel karena gagal summit
hahaha. Lalu aku pun mengajak summit pagi itu juga, dia pun sedikit kesal
dengan ajakanku. Meskipun tidak sesuai rencana kami tetap summit dan start
pukul 07.00 hahaha.
Perjalanan dari Pos 7
sampai Pos 9 batas vegetasi tidak terlalu jauh. setelah melewati Pos 9 medan yang
kami lewati berupa pasir dan batu-batu. Pagi itu cukup terik membuat kami
merasa kepanasan. Sebelum sampai puncak, pemandangan sudah sangat indah. Samudra
awan Gunung Slamet cukup membuat mata kami terpesona. Gumpalan-gumpalan awan
putih yang membentuk seperti ombak di laut di tambah cuaca yang cerah adalah
idaman bagi banyak pendaki. Tak lupa kami pun mengabadikan moment tersebut. Setelah
cukup puas kami melanjutkan perjalanan ke puncak.
Untuk pertama kalinya
kita menginjakkan kaki di atap Jawa Tengah. Susana puncak lumayan ramai oleh
pendaki. Dari puncak terlihat lubang kawah Gunung Slamet yang masih aktif. Kawahnya
berukuran besar dan berwarna agak kekuning-kuningan karena belerang. Para pendaki
dilarang untuk turun ke kawah karena berbahaya. Kami pun mengabadikan moment
itu dengan berfoto pada plang bertuliskan “Mt. Slamet 3.428 MDPL”. Pukul 11.00
kami bersiap turun ke camping ground. Baru beberapa meter turun dari puncak,
ada seorang pendaki yang hipotermia. Namun sudah banyak orang yang menolongnya,
kami pun menghampirinya dan mencoba membantunya. Untungnya kondisi pendaki
tersebut sudah mulai membaik, lalu kami meneruskan perjalanan turun bersama
mereka. Perjalana kami cukup lama karena ikut mengawal pendaki tersebut. Setelah
sampai di camping ground kami berpisah.
Waktu sudah menunjukkan
pukul 2 siang. Kami bergegas membongkar tenda dan turun ke basecamp. Perjalanan
kami cukup cepat karena tidak banyak berhenti untuk istirahat. Pukul 17.30 kami
sudah sampai di basecamp dengan selamat. Malamnya kami langsung balik kanan
menuju Jogja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar