Selasa, 26 April 2016

Samudra Awan Gunung Slamet

 

spilldong.blogspot.com

Pukul 9 malam aku dan Dani berangkat dari Jogja menuju Purbanlingga menaiki sepeda motor. Perjalanan cukup lancar, sampai di daerah Gombong ban kami kempes. Malam itu jalanan sudah mulai sepi, hanya ada truk-truk besar yang melintas. Kami mendorong sepeda motor lumayan jauh hingga menemukan bengkel yang masih buka. Selesai menambal ban, perjalanan kami lanjutkan.

Sekitar pukul 02.30 dini hari kami sampai di basecam pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Suasana cukup ramai oleh pendaki yang bermalam di basecamp. Aku dan Dani pun bergegas istirahat agar besok pagi badan terasa fit untuk mendaki. Udara di basecamp cukup dingin karena letaknya yang berada di ketinggian 1.279 mdpl.

Pagi harinya kami melakukan registrasi pendakian. Setelah selesai, Aku dan Dani langsung tancap gas. Trek awal kami berupa jalan cor yang menanjak. Ketika sampai area perkebunan warga, medan yang kami lewati berupa tanah padat. Trek pendakian melalui jalur Bambangan ini sangat diperlukan kondisi badan yang fit karena tidak ada bonusnya (jalur landai). Target kami yaitu camping ground di pos 7 agar tidak terlalu jauh dari puncak. perkiraan waktu untuk sampai pos 7 sekitar 6-7 jam. Sebelum sampai di pos 7, ada atu pos bernama Pos Samarantu yang kebanyakan orang bilang pos paling angker di Gunung Slamet. Gunung Slamet ini mempunyai tipe vegetasi yang tertutup, jadi jalur pendakian pun teduh ketika siang hari. Pohon-pohon besar dan sedikit berlumut menjadi pemandangan yang sudah biasa. Kalau hujan treknya pun terkadang bisa jadi sungai dadakan.

Kami sampai juga di Pos Samarantu. Terdapat sedikit tempat untuk mendirikan tenda, mungkin 4-5 tenda. Pos tersebut dikelilingi pohon-pohon besar yang membuat nuansa menjadi bertambah seram. Kami beristirahat sebentar di pos ini untuk sekedar mengatur nafas agar stabil kembali. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba hujan deras turun padahal kondisi langit tidak mendung sama sekali. Karena saking derasnya, trek yang kami lewati pun berubah menjadi sungai. Kami tetap melanjutkan perjalanan menembus aliran air. Sepatu yang berlabel waterproof pun tetap basah kuyub karena aliran air yang sangat deras.

Ketika sampai di Pos 7 pukul 16.15 hujan masih cukup deras. Kami beristirahat di shelter Pos 7 menunggu hujan reda. Kompor dan gas kami keluarkan untuk memasak air panas sebagai penghangat. Tidak lama setelah itu hujan pun reda. Kami mendirikan tenda di samping shelter dekat pohon yang cukup tinggi agar bisa menahan angin kencang. Malamnya kami memasak lauk sederhana, sayur sop dengan lauk tempe goreng. Kami makan di luar tenda karena malam itu cuaca cerah setelah diguyur hujan deras. Aku mengajak Dani untuk summit attack pukul 3 pagi agar bisa melihat sunrise di puncak.

Alarm kami berbunyi pukul 03.00 dini hari. Dani mencoba untuk membangunkanku, namun aku tidak juga bangun. Setengah jam kemudian dia masih mencoba membangunkanku, aku pun terbangun. Karena aku merasa masih sangat ngantuk maka kuputuskan untuk tidur sebentar lagi. Sekitar jam 4 pagi, Dani membangunkanku lagi untuk mengajak summit. Aku terbangun, namun aku menolak dan masih ingin tidur. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk tidur juga. Pukul 06.30 alarmku berbunyi lagi karena memang biasa aku mensetting jam segitu. Aku pun terbangun dengan badan terasa segar. Aku lihat Dani masih tidur pulas, lalu kubangunkan. Dia pun terbangun namun tidak berkata apa-apa. Sepertinya jengkel karena gagal summit hahaha. Lalu aku pun mengajak summit pagi itu juga, dia pun sedikit kesal dengan ajakanku. Meskipun tidak sesuai rencana kami tetap summit dan start pukul 07.00 hahaha.

Perjalanan dari Pos 7 sampai Pos 9 batas vegetasi tidak terlalu jauh. setelah melewati Pos 9 medan yang kami lewati berupa pasir dan batu-batu. Pagi itu cukup terik membuat kami merasa kepanasan. Sebelum sampai puncak, pemandangan sudah sangat indah. Samudra awan Gunung Slamet cukup membuat mata kami terpesona. Gumpalan-gumpalan awan putih yang membentuk seperti ombak di laut di tambah cuaca yang cerah adalah idaman bagi banyak pendaki. Tak lupa kami pun mengabadikan moment tersebut. Setelah cukup puas kami melanjutkan perjalanan ke puncak.

Untuk pertama kalinya kita menginjakkan kaki di atap Jawa Tengah. Susana puncak lumayan ramai oleh pendaki. Dari puncak terlihat lubang kawah Gunung Slamet yang masih aktif. Kawahnya berukuran besar dan berwarna agak kekuning-kuningan karena belerang. Para pendaki dilarang untuk turun ke kawah karena berbahaya. Kami pun mengabadikan moment itu dengan berfoto pada plang bertuliskan “Mt. Slamet 3.428 MDPL”. Pukul 11.00 kami bersiap turun ke camping ground. Baru beberapa meter turun dari puncak, ada seorang pendaki yang hipotermia. Namun sudah banyak orang yang menolongnya, kami pun menghampirinya dan mencoba membantunya. Untungnya kondisi pendaki tersebut sudah mulai membaik, lalu kami meneruskan perjalanan turun bersama mereka. Perjalana kami cukup lama karena ikut mengawal pendaki tersebut. Setelah sampai di camping ground kami berpisah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami bergegas membongkar tenda dan turun ke basecamp. Perjalanan kami cukup cepat karena tidak banyak berhenti untuk istirahat. Pukul 17.30 kami sudah sampai di basecamp dengan selamat. Malamnya kami langsung balik kanan menuju Jogja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara Menuju Candi Cetho Menggunakan Transportasi Umum

       Salah satu destinasi wisata yang wajib kunjungi jika berkunjung ke Solo yaitu Candi Cetho. Candi bercorak Hindu ini terletak di Barat...